Bacaan dan Melagukan Al-Qur’an

 


Al-Qur'an atau Qur'an (bahasa Arabالقرآن, translit. al-Qurʾānhar. 'bacaan'‎; /kɔːrˈɑːn/[a] kor-ahn), atau Alquran dan Quran dalam bentuk baku Ejaan bahasa Indonesia, adalah sebuah kitab suci utama dalam agama Islam, yang umat Muslim percaya bahwa kitab ini diturunkan oleh Tuhan, (bahasa Arabالله‎, yakni Allah) kepada Nabi Muhammad.Adapun pahala bagi orang membaca Al-Qur’an itu sendiri dihitungnya per huruf belum lagi apabila membaca ayat dan seterusnya.Ada jabaran pahala yang didapat dari membaca Al-Qur’an menurut Kitab Biharul Anwar : 1.membaca satu huruf Al-Qur’an dalam shalat dengan keadaan berdiri akan mendapat 100 kebaikan dan pahala, 2.membaca satu huruf Al-Qur’an dalam shalat dengan keadaan duduk akan mendapat lima puluh kebaikan dan pahala, 3.membaca satu huruf Al-Qur’an diluar shalat dalam keadaan suci akan mendapatkan dua puluh lima kebaikan dan pahala, 4.membaca satu huruf Al-Qur’an diluar shalat dalam keadaan tidak suci akan mendapat sepuluh kebaikan dan pahala, bukankah Allah maha pemurah karena telah memeberikan banyak keringanan dalam memperoleh pahala dan berbuat kebajikan. 1. Hadis riwayat Imam Tarmidzi dari Abdullah bin Mas’ud, mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“siapa yang membaca satu huruf dari Al-Quran, maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.

Selanjutnya ada adab mengenai membaca Al-Qur’an yaitu disunatkan membaca Al-Quran sesudah berwudhu/bersuci, mengambil Al-Quran hendaknya dengan tangan kanan, disunatkan membaca Al-Quran di tempat yang bersih dan suci, disunatkan membaca Al-Quran menghadap ke qiblat, membaca dengan khusyu’ , tenang dan berpakaian yang pantas, ketika membaca Al-Quran mulut hendaknya bersih dan tidak berisi makanan, sebelum membaca Al-Quran disunatkan membaca ta’awwudz, sesudah itu barulah membaca basmallah. Istilah Qiraat berasal dari bahasa Arab yaitu قراءات yang merupakan jamak dari قراءة . Secara etimologis, qiraat merupakan akar kata dari   قراء yang bermakna membaca.2 Lafaz قراءات secara luqhawi berkonotasi “beberapa pembacaan”. Secara terminologis, berbagai ungkapan atau redaksi dikemukakan oleh para ulama dalam hubungannya dengan qiraat. Ada dua ulama yang berpendapat tentang apa itu Qira’at yaitu :

1. Menurut az-Zarqani qiraat adalah mazhab yang dianut oleh seorang imam qiraat yang berbeda dengan lain- nya dalam pengucapan al-Qur’an serta kesepakatan riwayat-riwayat dan jalurjalurnya, baik perbedaan itu dalam pengucapan huruf-huruf ataupun pengucapan bentuk-bentuk.
2. Sedangkan menurut al-Zarkasyi, qiraat adalah perbedaan lafazlafaz al-Qur’an baik menyangkut huruf-hurufnya maupun cara-cara pengucapan huruf-huruf tersebut, seperti takhfit, tasydid dan lain-lain.

Dengan berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa :

1. Qira’at berkaitan dengan cara penglafalan ayat-ayat Al-Qur’an yang dilakukan salah seorang imam dan berbeda cara yang dilakukan imam-imam lainnya.
2. Cara penglafalan ayat-ayat Al-Qur’an itu berdasarkan atas riwayat yang bersambung kepada Nabi. Jadi, bersifat tauqifi, bukan ijtihadi.
3. Ruang lingkup perbedaan qira’at itu menyangkut persolan lughat, hadzaf,  I’rab, itsbat, fashl, dan washil.

Munculnya Qira’ah Sab’ah, secara lahir, al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab. Ia diturunkan di tengah-tengah kehidupan bangsa Arab yang merupakan komunitas dari berbagai suku yang secara sporadis tersebar di sepanjang jazirah Arab. Setiap suku me- miliki format dialek atau lahjah yang berbeda. Perbedaan dialek tersebut tentunya sesuai dengan letak geografis dan sosio-kultural dari masing-masing suku. Namun demikian, setiap suku telah menjadikan bahasa Quraisy sebagai bahasa bersama dalam berbagai hal, baik dalam berkomunikasi, berniaga atau yang lainnya. Perbedaan-perbedaan dialek merupakan suatu sebab yang dapat melahirkan bermacam-macam qiraat (bacaan) dalam melafazkan al-Qur’an. Dengan kata lain, lahirnya bermacam-macam qiraat merupakan akibat dari beragamnya dialek. Adanya keberagaman dialek merupakan sesuatu yang bersifat alami. Adapun beberapa manfaat mempelajari Ilmu Tajwid yaitu:

  • Agar kita tidak salah mengucapkan huruf-huruf dalam Al-Quran.
  • Agar kita tidak salah membaca harakat dalam Al-Quran.
  • Tidak salah dalam membaca tanda baca dalam Al-Quran.
  • Menjaga keaslian bacaan Al-Quran dan menjaga makna Al-Quran agar tidak berubah.
  • Meraih ridho Allah SWT. Seperti dalam firmannya:

            Dan bacalah Al-Quran itu dengan tartil.

            (QS. Al-Muzzammil : 4).

            Tartil dalam hal ini di artikan sebagai ilmu tajwid.

 

 

Opini: “Sebagai umat muslim yang bertaqwa seharusnya kita senantiasa mempelajari islam secara mendalam atau tidak hanya setengah-setengah saja sehingga dapat menjadi seorang islam yang seutuhnya, salah satunya mempelajari cara membaca dengan baik dan benar.”

 

 

Komentar