“Hubungan Antropologi, Kebudayaan, dan Agama Islam”

 A. Pengertian Antropologi 

Antropologi berasal dari kata Yunani “anthropos” yang berarti manusia atau orang dan 

“logos” yang berarti ilmu. Antropologi berarti ilmu yang mempelajari tentang manusia, sebagai 

makhluk biologis sekaligus makhluk sosial. Antropologi mempelajari manusia dari segi 

keragaman fisik dan keragaman kebudayaan (cara-cara berperilaku, tradisi-tradisi dan nilai-

nilai yang dihasilkan manusia), sehingga antara yang dihasil oleh manusia yang satu dengan 

manusia lainnya akan berbeda. Pengertian antropologi menurut istilah dikemukakan beberapa 

pendapat ahli1

:

1. William A. Haviland, menyatakan bahwa antropologi ialah studi tentang kebudayaan, 

berusaha menyusun pendeskripsian yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya 

serta untuk memperoleh keanakeragaman yang lengkap tentang manusia.

2. David Hunter, mengemukakan bahwa antropologi ialah ilmu yang lahir dari 

keingintahuan yang tidak terbatas tentang manusia.

3. E.A. Hoebel yang menyatakan bahwa antropologi ialah studi tentang manusia dan 

kerjanya.

4. Menurut Ariyono Suyono bahwa antropologi ialah suatu ilmu yang berusaha mencapai 

pengertian tentang makhluk manusia dengan mempelajari aneka warna bentuk fisik, 

kepribadian, masyarakat, serta kebudayaan.

B. Perkembangan Antropologi 

Seperti sosiologi, antropologi sebagai sebuah ilmu juga mengalami tahapan-tahapan 

dalam perkembangannya. Koentjaraninggr

1. Fase Pertama (Sebelum tahun 1800-an)

Manusia dan kebudayaannya, sebagai bahan kajian Antropologi. Sekitar abad ke-15-

16, bangsa-bangsa di Eropa mulai berlomba-lomba untuk menjelajahi dunia. Mulai dari Afrika,

Amerika, Asia, hingga ke Australia. Dalam penjelajahannya mereka banyak menemukan hal-

hal baru. Mereka juga banyak menjumpai suku-suku yang asing bagi mereka. Kisah-kisah

petualangan dan penemuan mereka kemudian mereka catat di buku harian ataupun jurnal

perjalanan. Mereka mencatat segala sesuatu yang berhubungan dengan suku-suku asing

tersebut. Mulai dari ciri-ciri fisik, kebudayaan, susunan masyarakat, atau bahasa dari suku

tersebut. Bahan-bahan yang berisi tentang deskripsi suku asing tersebut kemudian dikenal

dengan bahan etnografi atau deskripsi tentang bangsa-bangsa. Bahan etnografi itu menarik

perhatian pelajar-pelajar di Eropa. Kemudian, pada permulaan abad ke-19 perhatian bangsa

Eropa terhadap bahan-bahan etnografi suku luar Eropa dari sudut pandang ilmiah, menjadi

sangat besar. Karena itu, timbul usaha-usaha untuk mengintegrasikan seluruh himpunan bahan

etnografi.

2. Fase Kedua (tahun 1800-an)

Pada fase ini, bahan-bahan etnografi tersebut telah disusun menjadi karangan-karangan

berdasarkan cara berpikir evolusi masyarakat pada saat itu. masyarakat dan kebudayaan

berevolusi secara perlahan-lahan dan dalam jangka waktu yang lama. Mereka menganggap

bangsa-bangsa selain Eropa sebagai bangsa-bangsa primitive yang tertinggal, dan menganggap

Eropa sebagai bangsa yang tinggi kebudayaannya.

Pada fase ini, Antopologi bertujuan akademis, mereka mempelajari masyarakat dan

kebudayaan primitif dengan maksud untuk memperoleh pemahaman tentang tingkat-tingkat

sejarah penyebaran kebudayaan manusia.

3. Fase Ketiga (awal abad ke-20)

Pada fase ini, negara-negara di Eropa berlomba-lomba membangun koloni di benua lain

seperti Asia, Amerika, Australia dan Afrika. Dalam rangka membangun koloni-koloni tersebut,

muncul berbagai kendala seperti serangan dari bangsa asli, pemberontakanpemberontakan,

cuaca yang kurang cocok bagi bangsa Eropa serta hambatan-hambatan lain. Dalam

menghadapinya, pemerintahan kolonial negara Eropa berusaha mencari-cari kelemahan suku

asli untuk kemudian menaklukannya. 


Komentar