KAJIAN HISTORIS SEBAGAI PENDEKATAN DALAM KAJIAN KEISLAMAN
A. Pengertian Pendekatan Historis
Kata sejarah berasal dari bahasa Arab syajarah yang berarti pohon, dan kata
tersebut berkaitan dengan fakta-fakta yang berkaitan dengan sejarah, syajarat al-nasab,
pohon silsilah yang kemudian disebut sejarah keluarga, atau kata kerja syajara yang
juga berarti terjadi, untuk terjadi, terjadi, dan berkembang. Dalam perkembangannya,
sejarah dipahami memiliki arti yang sama dengan tanggal (Arab), istora (Yunani),
sejarah atau geschichte (Jerman), hanya merujuk pada peristiwa masa lalu yang
melibatkan manusia.
Sedangkan Ernst Bernheim, dalam usahanya sebagai makhluk sosial, menyebut
sejarah sebagai ilmu perkembangan manusia. 15 Menurut Hassan, Sejarah atau Kencan
adalah seni membicarakan peristiwa-peristiwa temporal ditinjau dari norma dan waktu,
subjeknya adalah orang dan waktu, dan pertanyaan adalah situasi yang menggambarkan
bagian dari rentang situasi yang terjadi pada manusia pada suatu waktu. .
Metode sejarah adalah suatu penelitian dan sumber-sumber lain yang memuat
informasi tentang masa lalu dan dilakukan secara sistematis, dapat dikatakan bahwa
metode sejarah dalam studi Islam adalah suatu usaha sadar dan sistematis untuk
memahami, memahami dan membahas secara mendalam kompleksitas atau persoalan
yang berkaitan dengan Islam, apapun sepanjang sejarahnya, dalam kaitannya dengan
ajaran, sejarah, dan praktik yang benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui metode sejarah, seseorang diajak memasuki situasi aktual tentang
penerapan peristiwa tersebut. Dengan demikian, orang tidak memahami agama di luar
konteks historisnya, karena pemahaman di luar konteks historisnya akan menyesatkan.
Seseorang yang ingin memahami Al-Qur’an secara benar misalnya, yang bersangkutan
harus memahami sejarah turunnya Al- Qur’an atau kejadian-kejadian yang mengiringi
turunnya al-Qur’an yang selanjutnya disebut dengan ilmu asbab al-nuzul.
Mengingat begitu besar peranan pendekatan historis ini, maka diharapkan akan
melahirkan semangat keilmuan untuk meneliti lebih lanjut beberapa peristiwa yang ada
hubungannya terutama dalam kajian Islam di berbagai disiplin ilmu, diharapkan dari
penemuan-penemuan ini akan lebih membuka tabir kedinamisan dalam mengamalkan
ajaran murni ini dalam kehidupan yang lebih layak sesuai dengan kehendak syara’,
mengingat pendekatan historis memiliki cara tersendiri dalam melihat masa lalu guna
menata masa sekarang dan akan datang.
2
B. Studi Islam Masa Klasik
Setelah Nabi wafat, muncul pertanyaan siapa yang menggantikan Nabi karena
Nabi tidak meninggalkan wasiat tentang pergantian kepemimpinan. Kelompok
Muhajirin dan Ansar masing-masing mengklaim paling diberdayakan untuk
menggantikan jabatan nabi. Pada saat kejadian, Umar bin Khatab datang dan
mengusulkan agar Abu Bakar adalah orang terbaik untuk menggantikan Nabi karena
kedekatan dan senioritasnya. Kemudian Omar bersumpah setia pada abu yang terbakar,
dan yang lainnya mengikuti.
Proses pemilihan abu dilakukan oleh individu yaitu Ummar bin Khattab dengan
tepuk tangan dan kemudian disetujui oleh umat Islam. Sesaji abu bakar kembali
dilakukan di Masjid Nabawi. Periode klasik ini juga dapat dibagi menjadi dua periode,
periode kemajuan dan periode disintegrasi. Periode Progresif Islam 650-1000 M Ini
adalah ekspansi, fusi dan zaman keemasan Islam. Dalam hal ekspansi, seluruh Jazirah
Arab berada di bawah kekuasaan Islam sampai wafatnya Nabi Muhammad pada tahun
623 M. Ekspansi kedaerah-daerah di luar arabia dimulai dizaman khalifah pertama, Abu
bakar Al-Siddik.
Sayidina Abu bakar menjadi khalifah di tahun 632 M tetapi dua tahun kemudian
meninggal dunia. Masanya yang singkat itu dipergunakan untuk menyelesaikan perang
riddah, yang dimbulkan oleh suku-suku bangsa arab yang tidak mau tunduk lagi kepada
madinah. lalu dilanjutkan oleh khlifah kedua, Umar Ibn Al-Khattab (634-644 M). Di
zamannyalah gelombang ekspansi pertama terjadi, kota damaskus jatuh di tahun 635
M. Dan setahun kemudian, setelah tentara binzantium kalah pertempuran di yarmuk,
jatuh ke bawah kekuasaan islam. Ekspansi di teruskan ke irak dan mesir. Irak jatuh di
tangan islam pada tahun 637 M sedangkan, mesir jatuh di tangan islam pada tauhn 640
M. Setelah irak jatuh ke tangan islam, lalu dilanjutkan serangan di persia. Persia jatuh
ditangan islam pada tahun 641 M.
Di zaman Sayidina Usman Bin Affan (644-656 M), gelombang ekspansi
pertama berhenti sampai di sini. Di kalangan umat islam terjadi perpecahan karena soal
pemerintahan dan dalam kekacauan yang timbul usman mati terbunuh. Sebagai
penganti Usman, Sayidina Ali Ibn Abi Thalib menjadi khalifah keempat (656-661 M)
tetapi mendapat tantangan dari pihak pendukung Usman terutam Mu’awiah. Ali,
sebagaimana usman mati terbunuh, dan mu’awiah menjadi khalifah kelima. Mu’awiah
selajutnya membentuk Dinasti Bani Umayyah (661-750 M) dan ekspansi gelombang
kedua terjadi di zaman dinasti ini. Mu’awiah menerapkan pemerintahan semacam
monarki yakni kekuasaan turun- menurun di kalangan keluarganya.
Komentar
Posting Komentar