FENOMENOLOGI SEBAGAI PENDEKATAN STUDI KEISLAMAN

 A. Metode Burhany sebagai sebuah Pendekatan Burhani adalah kerangka berfikir yang tidak didasarakan atas teks suci maupun pengalaman spritual melainkan berdasarkan keruntutan logika. kebenaran dalam spekulatif metodologi ini persis seperti yang diperagakan oleh metode keilmuan yunani yang landasanya murni pada cara kerja empirik. kebenaran harus dibuktikan secara empirik dan diakui menurut penalaran logis. pendekatan burhani mampu menyusun cara kerja keilmuan dan mampu melahirkan sejumlah teori dan praktis ilmu seperti : ilmu-lmu biologi,fisika, astronomi, geologi dan bahkan ilmu ekonomi, pertanian dan pertambangan Pendekatan Burhany atau pendekatan rasional argumentatif adalah pendekatan yang mendasakan diri pada kekuatan rasio melalui instrumen logika. Pendekatan ini menjadikan realitas aupun teks dan hubungan antara keduanya sebagai sumber kajian. Burhany adalah epistemonologi yang memiliki pandangan bahwa sumber ilmu pengetahuan adalah akal. Menurut al-Jabiri, epistemologi burhani merupakan cara berpikir masyarakat Arab yang bertumpu pada kekuatan natural manusia, yaitu pengalaman empirik dan penilaian akal, dalam mendapatkan pengetahuan tentang segala sesuatu. Sebuah pengetahuan bertumpu pada hubungan sebab akibat. Cara berpikir seperti ini tidak dapat dilepaskan dari pengaruh „gaya‟ logika Aristoteles. Nalar burhani masuk pertama kali kedalam peradaban Arab-Islam dibawa oleh al-Kindi melalui sebuah tulisannya, yaitu al-Falsafah al-Ula. Sebuah tulisan tentang filsafat yang „disadur‟dari filsafatnya Aristoteles. Al-Kindi menghadiahkan tulisan ini kepadakhalifah al-Makmun (218 H – 227 H). Di dalam al-falsafah al-Ula, al-Kindi menegaskan bahwa filsafat merupakan ilmu pengetahuan manusia yang menempati posisi paling tinggi dan paling agung, karena dengannya hakekat segala sesuatu dapat diketahui. Melalui tulisan itu pula, al-Kindi menepis keraguan orang-orang yang selama ini menepis dan menolak keberadaan filsafat: filsafat adalah jalan untuk mengetahui kebenaran B. Fenomenologi Pemaknaan Rasional Fenomenologi secara kritis dapat diinterpretasikan secara luas sebagai sebuah gerakan filsafat secara umum memberikan pengaruh emansipatoris secara implikatif kepada metode penelitian sosial. Pengaruh tersebut di antaranya menempatkan responden sebagai subyek yang menjadi aktor sosial dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya pemahaman secara mendalam tentang pengaruh perkembangan fenomenologi itu sendiri terhadap perkembangan ilmu sosial belum banyak dikaji oleh kalangan ilmuwan sosial. Pengkajian yang dimaksud adalah pengkajian secara historis sebagai salah satu pendekatan dalam ilmu sosial. Edmund Husserl, (lahir 8 April 1859, Prossnitz , Moravia, Kekaisaran Austria [sekarang Prostjov, Republik Ceko] - meninggal 27 April 1938, Freiburg im Breisgau , Ger.), Filsuf Jerman, pendiri Fenomenologi , sebuah metode untuk deskripsi dan analisis kesadaran yang melaluinya filosofi berusaha untuk mendapatkan karakter ilmu yang ketat. Metode ini mencerminkan upaya untuk menyelesaikan pertentangan di antara keduanya Empirisme , yang menekankan pengamatan, dan Rasionalisme , yang menekankan akal dan teori, dengan menunjukkan asal dari semua sistem filosofis dan ilmiah dan perkembangan teori dalam kepentingan dan struktur kehidupan pengalaman. Fenomenologi Husserl dibentuk oleh pemahamannya tentang akal manusia. Dari Investigasi Logika ke Krisis , masalah alasan tampaknya menjadi salah satu tema utama dalam pertimbangan Husserl. Dia mendekati masalah ini dari sudut yang berbeda, berbicara tentang konsep dunia, waktu, dan tanggung jawab. Temuan Husserl telah membawanya untuk mengidentifikasi krisis budaya. Para sarjana hari ini harus mempertanyakan konsep nalar Husserl untuk memahami sepenuhnya tesis ini. Artikel ini berpendapat konsep nalar Husserl dikonstruksikan berkorelasi dengan tidak masuk akal, menyebabkan para ahli fenomenologi mengadopsi pembagian biner antara rasionalitas dan irasionalitas. Edmund Husserl berpendapat bahwa memecahkan teka-teki antara akal dan irasionalitas adalah tugas utama filsafat kontemporer. Dalam Tugas-tugas Filsafat Kontemporer , Husserl menyajikan pandangan metaforis tentang pengertian yang dibicarakan oleh "bidang irasionalitas." dalam rasionalitas. " Ketidakrasionalan yang merupakan tema rasionalitas terdiri dari kekuatan nalar untuk mempertanyakan fondasi. Jadi, irasionalitas adalah bagian dari akal.Namun demikian, kita harus menekankan irasionalitas dan beralasan (Unvernunft) adalah obyek penyelidikan fenomenologis. Oleh karena itu, pertanyaan tentang alasan menuntut kita untuk membangun korelasi penting antara rasionalitas dan irasionalitas. C. Integralisasi Metode Burhany dengan Fenomenologi Dalam pengertian yang sempit, burhani adalah aktivitas pikir untuk menetapkan kebenaran pernyataan melalui metode penalaran, yakni dengan mengikatkan pada ikatan yang kuat dan pasti dengan pernyataan yang aksiomatis. Dalam pengertian yang luas, burhani adalah setiap aktivitas pikir untuk menetapkan kebenaran pernyataan. Epistemologi Islam mengakui bahwa metode tajribi memang relatif berhasil dalam mengelola gejala alam material, tetapi metode tersebut tidak mampu memberikan penjelasan konferensif terhadap seluruh realitas. Islam menegaskan bahwa dunia terdiri atas dunia spritual. Visi Islam menegaskan bahwa dunia terdiri atas dunia spiritual dan dunia material. dalam hal ini, metode tajribi hanya mampu (meskipun memiliki banyak kelemahan akibat dari kelemahan panca indra dan keluasan dalam material) memberikan gambaran mengenai dunia material, dan tidak akan pernah mampu memberikan penjelasan terhadap hakikat dimensi-dimensi spritual dari realitas seperti Tuhan, malaikat, jiwa dan alam hakikat. Sebab itu, ilmuwan muslim membutuhkan metode lain yang dinilai tepat dalam menguak alam material sekaligus alam spritual, dan ilmuwan muslim dalam peradaban Islam telah mengenalkan dan mengembangkan metode burhani (metode rasional). Metode burhani dijadikan oleh kaum rasional muslim (filsuf dan teolog) sebagai salah satu metode ilmiah untuk dapat menemukan teori teori rasional secara ilmiah. Dalam sejarah peradaban Islam, ditemukan sejumlah ilmuwan yang menerapkan metode burhani seperti kaum filsuf mazhab peripatetik (al-kindi, Al Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd), kaum teolog (terutama mu'tazilah dan Syiah), kalangan fuqaha (terutama mazhab Hanafi), dan para mufassir (terutama muka ciri dari aliran tafsir dirayah). Mereka dikenal sebagai kaum rasional dalam Islam, dan menjadikan logika sebagai metode ilmiah dalam mengembangkan disiplin keilmuan mereka masingmasing. Dengan metode ini, para ilmuan-ilmuan muslim klasik telah banyak menemukan berbagai ilmu pengetahuan dan menuangkannya dalam berbagai tulisantulisan. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya buku-buku klasik yang masih bisa dijumpai sampai sekarang yang isinya atau ilmu pengetahuan tersebut diperoleh dengan menggunakan metode burhani. Dalam pandangan epistemologi burhani, rasio manusia senantiasa kongruen dengan sistem kealaman, dan kata sistem kealaman (dengan kebakuan relasi kausalitasnya) adalah manifestasi "tata akali" Ilahi. Epistemologi ini tidak mengakui adanya sumber pengetahuan lain diluar jangkauan indra (empiris) dan akal manusia karena kebenaran sepenuhnya reosinable (ma'quliyah). Jika terdapat pengetahuan yang berasal dari selain empirik dan akal, maka untuk dapat dianggap sebagai suatu kebenaran haruslah tunduk pada 'pemeriksaan" logis-rasional dengan hukum kausalitas. Oleh karena itu, Ibnu Rusyd mengasaskan bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini masuk ajaran agama tunduk pada keniscayaan kausalitas dan mesti bisa dimengerti oleh akal atau rasio manusia. Akal merupakan resentasi hukum kausalitas dalam tata realitas yang dicerna manusia sehingga penyangkalan terhadap prinsip kausalitas sama halnya dengan penyangkalan rasio. Selaras dengan prinsip keniscayaan kausalitas, dalam makna filosofisnya, Burhan dibedakan pada dua macam yakni burhan dilalah dan burhan Ilahi. Burhan dilalah adalah suatu penarikan kesimpulan argumentatif dengan bertolak dari akibat menuju sebab, sedangkan Burhan ilahi adalah penarikan kesimpulan argumentatif yang bertolak dari sebab menuju ke akibat.

Komentar