PSIKOLOGI SEBAGAI PENDEKATAN KAJIAN KEISLAMAN
A. Pengertian Psikologi dan Perkembangannya Psikologi sendiri berasal dari kata dalam bahasa Yunani yakni psychology yang merupakan gabungan dari kata psyche dan logos. Psyche berarti jiwa dan logos berarti ilmu. Oleh karena itu, secara harfiah dapat dipahami bahwa psikologi adalah ilmu jiwa. Kata logos juga sering dimaknai sebagai nalar dan logika. Kata logos ini menjadi pengetahuan merata dan dapat dipahami lebih sederhana. Kata psyche ini menarik bagi sesame sarjana psikologi, karena istilahnya masih sulit didefinisikan. Psyche ini berarti jiwa, sedangkan objek ini masih bersifat abstrak, sulit dilihat wujudnya, meskipun tidak bisa disangkal keberadaannya. Dalam beberapa hal, psyche sering diartikan dengan kata psikis. Dalam kamus oxford misalnya, kita dapat melihat bahwa istilah psychemempunyai banyak arti dalam bahasa Inggris yakni soul, mind, dan spirit. Dalam bahasa Indonesia ketiga kata bahasa Inggris itu dapat dicakup dalam satu kata yakni “jiwa”. Dalam bahasa Arab, kita dapat menemukan kata jiwa ini dipadankan dengan kata ruh dan rih yang masing-masing berarti jiwa atau nyawa dan angin. Dengan demikian bisa jadi adanya hubungan antara apa yang bernyawa dengan apa yang bernafas (angin), sehingga dapat pula dipahami bahwa psikologi sendiri merupakan ilmu tentang sesuatu yang bernyawa. Pada masa psikologi masih merupakan sesuatu yang dipikirkan oleh para filsuf, definisnya yang merupakan ilmu jiwa masih belum menimbulkan perdebatan. Namun, sejak psikologi berdiri sebagai ilmu yang tersendiri atau terpisah dari ilmu induknya filsafat, maka mulailah timbul kesulitan-kesulitan, karena salah satu tuntutan ilmu pengetahuan adalah bahwa hal-hal yang dipelajari dalam ilmu itu harus dapat dibuktikan dengan nyata, padahal untuk membuktikan adanya jiwa sebagai sesuatu yang nyata adalah tidak mungkin, apalagi untuk mengukur atau menghitung dengan alat-alat objektif. Beberapa ahli memiliki pandangan yang berbeda terkait pengertian psikologi, yakni antara lain : a. Plato dan Aristoteles: Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang hakikat jiwa serta prosesnya sampai akhir. b. Woodworth dan Marquis: Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari aktivitas individu dari sejak masih dalam kandungan sampai meninggal dunia dalam hubungannya dengan alam sekitar. c. Singgih Dirgagunarsa: Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia. J. B. Watson yang juga merupakan tokoh pendiri dari Behavioristik meyakini bahwa psikologi itu tentang perilaku manusia. Kajian dari psikologi sebaiknya mengarah pada perilaku yang nampak. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Singgih Dirgagunarsa yang juga guru besar psikologi di Indonesia menggambarkan psikologi adalah mengkaji perilaku yang nyata, dapat dilihat atau diukur. Dalam garis besarnya, sejarah psikologi dapat dibagi dalam dua tahap utama, yaitu masa sebelum dan masa sesudah menjadi ilmu yang berdiri sendiri. Kedua tahap ini dibatasi oleh berdirinya laboratorium psikologi yang pertama di Leipzig pada tahun 1879 oleh Wilhelm Wundt. Sebelum tahun 1879, psikologi dianggap sebagai bagian dari filsafat atau ilmu faal, karena psikologi masih dibicarakan oleh sarjanasarjana dari kedua bidang ilmu itu yang kebetulan mempunyai minat terhadap gejala jiwa, tetapi tentu saja penyelidikan-penyelidikan mereka masih terlalu dikaitkan dengan bidang lain ilmu mereka sendiri saja. Pada saat Wundt berhasil mendirikan laboratorium psikologi di Leipzig, para sarjana kemudian baru mulai menyelidiki gejala-gejala kejiwaan secara lebih sistematis dan objektif. Metode-metode baru diketemukan untuk mengadakan pembuktian-pembuktian nyata dalam psikologi sehingga lambat laun dapat disusun teori-teori psikologi yang terlepas dari ilmu-ilmu induknya. Sejak masa itu pulalah psikologi mulai bercabangcabang ke dalam aliran-aliran, karena bertambahnya jumlah sarjana psikologi tentu saja menambah keragaman berpikir dan banyak pikiran-pikiran itu yang tidak dapat disatukan satu sama lain. Karena itulah maka mereka yang merasa sepikiran, sependapat, menggabungkan diri dan menyusun suatu aliran tersendiri. Aliran-aliran strukturalisme, fungsionalisme, behaviorisme, dan sebagainya adalah aliran-aliran yang tumbuh setelah lahirnya laboratorium pertama di Leipzig tersebut. Minat untuk menyelediki gejala kejiwaan sudah lama sekali ada di kalangan umat manusia ini. Mula-mula sekali ahliahli filsafat dari zaman Yunani Kuno lah yang mulai memikirkan tentang gejala-gejala kejiwaan. Pada waktu itu belum ada pembuktian-pembuktian nyata atau empiris, melainkan segala teori dikemukakan berdasarkan argumentasi-argumentasi logis (akal) belaka yang mana psikologi pada saat itu benar-benar masih merupakan bagian dari filsafat semurni-murninya. Tokoh-tokoh filsaafat yang banyak mengemukakan teorinya pada masa tersebut antara lain adalah Plato (427 – 347 SM) dan Aristoteles (384 – 322 SM). Berabad-abad setelahnya, psikologi masih juga masih merupakan bagian dari filsafat, antara lain di Perancis muncul Rene Descarters (1596 – 1650) yang terkenal dengan teori tentang kesadaran dan di Inggris muncul tokoh-tokoh seperti John Locke (1623 – 1704), George Berkeley (1685 – 1753), James Mill (1773- 1836) dan anaknya John Stuart Mill (1806 – 1873) yang semuanya itu dikenal sebagai tokoh-tokoh aliran asosiasionisme. Pada tahun 1879 adalah tahun yang sangat penting dalam sejarah psikologi. Pada tahun inilah Wundt mendirikan laboratorium psikologi yang pertama kali di Leipzig, Jerman yang dianggap sebagai pertanda berdiri sendirinya psikologi sebagai ilmu yang terpisah dari ilmu-ilmu induknya (filsafat dan faal). Pada tahun ini pula, Wundt memperkenalkan metode yang digunakan dalam eksperimeneksperimen, yaitu metode introspeksi. Wundt kemudian dikenal sebagai seorang yang menganut strukturalisme karena ia mengemukakan suatu teori yang menguraikan struktur (susunan, komposisi) dari jiwa. Wundt juga dikenal sebagai seorang penganut elementisme, karena ia percaya bahwa jiwa terdiri dari elemenelemen. Ia pun dianggap sebagai tokoh asosiasionisme, karena ia percaya bahwa asosiasi adalah mekanisme yang terpenting dalam jiwa, yang menghubungkan elemenelemen kejiwaan satu sama lainnya sehingga membentuk satu struktur kejiwaan yang utuh. Ajaran-ajaran Wundt ini kemudian disebarluaskan ke Amerika Serikat oleh E. B. Titchener (1867 – 1927). Akan tetapi tidak dapat respon positif karena orang Amerika terkenal praktis dan pragmatis. Teori ini tidak diterima karena dianggap terlalu abstrak dan kurang dapat diterapkan secara langsung dalam kenyataan. Sarjana psikologi di Amerika kemudian membentuk aliran sendiri yang disebut fungsionalisme dengan tokoh-tokohnya antara lain William James (1842 – 1910) dan J. M. Cattel (1866 – 1944). Sesuai dengan namanya aliran ini lebih mengutamakan mempelajari fungsi-fungsi jiwa daripada mempelajari strukturnya. Namun demikian aliran fungsionalisme ini pun juga masih dikritik di Amerika Serikat. Hal ini disebabkan karena dianggap masih terlalu abstrak. k. Golongan terkahir ini menghendaki agar psikologi hanya mempelajari hal-hal yang benarbenar objektif, karena itu mereka hanya mau mengakui tingkah laku yang nyata (dapat diukur dan dapat dilihat) sebagai objek psikologi. Pandangan ini dipelopori oleh J. B. Watson (1878 – 1958), dikembangkan selanjutnya oleh tokoh-tokoh antara lain E.C. Tolamn (1886 – 1959) dan B. F. Skinner (1904 – 1990). Sementara itu, di Jerman sendiri ajaran-ajaran Wundt mulai mendapat kritik dan koreksi. Salah satu murid Wundt, O. Kulpe (1862 – 1915), adalah salah satu yang kurang puas dengan ajaran Wundt dan memisahkan diri dari Wundt untuk 14 | Pengantar Psikologi mendirikan aliran sendiri di Wurzburg. Aliran ini yang kemudian dikenal sebagai aliran Wurzburg menolak anggapan Wundt bahwa berpikir itu selalu berupa image (bayangan dalam alam pikiran). Reaksi lain terhadap Wundt di Eropa datang dari aliran Psikologi Gestalt. Aliran ini menolak ajaran elementisme dari Wundt dan berpendapat bahwa gejala kejiwaan (khususnya persepsi, karena inilah yang banyak diteliti oleh aliran ini) haruslah dilihat sebgai keseluruhan yang utuh, yang tidak terpecah-pecah dalam bagianbagian dan harus dilihat sebagai suatu “Gestalt”. Tokoh-tokoh dari aliran ini adalah M. Wertheimer (1880 – 1943), K. Kofka (1886 – 1941) dan W. Kohler (1887 – 1967). Aliran Gestal berkembang lebih lanjut. Antara lain dengan melalui tokoh bernama Kurt Lewin (1890 – 1947), yang membawa aliran ini ke Amerika Serikat, berkembang aliran baru yang dinamakan Psikologi Kognitif. Pada perkembangan selanjutnya, peranan dokter-dokter khususnya psikiater (ahli penyakit jiwa) dalam perkembangan psikologi menjadi penting untuk dilihat juga. Dokter-dokter ini umumnya tertarik pada penyakit-penyakit jiwa, khususnya psikoneurosis, dan berusaha mencari sebab-sebab penyakit ini untuk mencari teknis penyembuhannya (terapi) yang tepat. Sigmund Freud (1856 – 1939) adalah orang yang pertama yang secaara sistematis menguraikan kualitas-kualitas kejiwaan itu beserta dinamikanya untuk menerangkan kepribadian orang dan untuk diterapkan dalam teknik psikoterapi dan aliran atau teorinya disebut psikoanalisa. Aliran ini juga dikenal dengan istilah psikologi dalam (depth psychology), karena aliran ini tidak hanya berusaha 16 | Pengantar Psikologi menerangkan segala sesuatu yang nampak dari luar saja, melainkan khususnya berusaha menerangkan apa yang terjadi di dalam atau di bawah kesadaran itu. Pengaruh psikoanalisa ini besar sekali terhadap perkembangan psikologi sampai sekarang. Dua aliran yang sampai hari ini masih dianggap berpengaruh besar yakni Behaviorisme dan Psikoanalisis. Keduanya dipandang terlalu memandang manusia dari satu segi saja. Behaviorisme dianggap memandang manusia hanya sebagai makhluk reflex, sementara Psikoanalisis hanya memandang manusia sebagai makhluk yang dikendalikan oleh ketidaksadarannya. Karena itu muncul aliran Psikologi Holistik atau Humanistik dengan tokoh-tokohnya antara lain Abraham Maslow (1908 – 1970) dan Carl Rogers (1902 0 1987). Aliran ini dinamakan holistik karena memandang manusia sebagai keseluruhan dan dinamakan Humansitik karena memandang manusia sebagai itu sendiri, sebagai manusia yang mengalami dan menghayati, bukan sekedar sebagai kumpulan reflex atau kumpulan naluri ketidaksaran. Psikologi diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1952 oleh Slamet Imam Santoso, profesor psikiatri di fakultas kedokteran, Universitas Indonesia. Pada pidato pengakuannya sebagai profesor, Slamet menceritakan pengalamannya dengan pasien-pasiennya yang kebanyakan anggota militer dan pegawai pemerintah yang mengalami gangguan psikosomatis karena tidak mampu mengerjakan pekerjaan barunya setelah Indonesia mengambil alih pemerintahan dari kolonial Belanda pada tahun 1950, menurut Slamet, psikiatri membutuhkan ilmu psikologi untuk menjelaskan potensi-potensi manusia guna menyeleksi orang Slamet Imam Santoso yang tepat pada tempat (pekerjaan) yang tepat (the right man in the right place). Setelah pidato tersebut, diselenggarakan kursus pelatihan di Universitas Indonesia terhadap para asisten psikolog, dan beberapa tahun kemudian kursus itu menjadi jurusan psikologi di fakultas kedokteran, Universitas Indonesia. Slamet ditunjuk sebagai ketua jurusan tersebut. Psikologi pertama yang lulus adalah Fuad Hassan pada tahun 1958. Pada tahun 1960, Depertemen psikologi tersebut berdiri sendiri menjadi Fakultas Psikologi dengan Slamet sebagai dekan pertama sebelum digantikan dengan Fuad Hassan pada tahun tujuh puluhan (selain menjadi guru besar dan Dekan Fakultas Psikologi di Universitas Indonesia, Fuad Hassan kemudian menjadi duta besar dan menteri pendidikan dan kebudayaan). Sementara itu, ditahun 1950-an terdapat juga beberapa psikolog yang dikirim TNI dan pemerintah untuk menjalani pendidikan psikologi di Belanda dan Jerman. B. Psikologi dalam Islam Psikologi Islami memandang bahwa manusia selalu dalam proses berhubungan dengan alam, manusia, dan Tuhan. Hubungan manusia dengan alam sangat diperlukan untuk menghargai dan menghormati terhadap ciptaannya sehingga manusia mampu menjaga lingkungan yang baik. Sedangkan hubungan manusia dengan sesamanya yaitu menjaga dan melindungi harga dan martabat sebagai manusia, karena manusia diciptakan sama, maka sikap dan tindakan jangan sampai mengakibatkan perpecahan dan permusuhan. Sementara manusia dengan Tuhan tiada lain untuk menciptakan hubungan penghambaan yang baik, karena manusia diciptakan oleh Allah Swt dengan penuh kasih sayang. Psikologi Islam adalah sebuah kajian yang baru dikembangkan di awal tahun 60- an. Kajian ini bermula dari usaha Dr. Zakiah Drajat yang mulai mengenalkan psikologi dari tinjauan agama. Berikut beberapa definisi tentang psikologi islami (Prof Zakiah Daradjat dalam Mubarak, 2002) : 1. Psikologi Islam adalah ilmu yang berbicara tentang manusia, terutama kepribadian manusia yang bersifat filsafat, teori, metodologi dan pendekatan problem dengan didasari sumber-sumber formal Islam (Al-Qur’an dan Hadist), akal, indera dan intuisi. 2. Psikologi Islam adalah corak psikologi berlandaskan citra manusia menurut ajaran Islam, yang mempelajari keunikan dan pola perilaku manusia sebagai ungkapan interaksi dengan diri sendiri, lingkungan sekitar dan alam keruhanian, dengan tujuan meningkatkan Kesehatan mental dan kualitas keberagamaan. Sementara itu, Mujib & Muzakir (2002) menawarkan definisi sebagai berikut: “Kajian islam yang berhubungan dengan aspek-aspek dan perilaku kejiwaan manusia, agar secara sadar ia dapat membentuk kualitas diri yang lebih sempurna dan mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat” C. Teori Psikologi Islam dan Barat Teori Psikologi Islam Pendekatan Psikologi Islam adalah upaya memahami dan atau mengintervensi dimensi kognitif, afektif, konatif dan perilaku yang didasarkan pada pandangan dunia islam. Suatu pendekatan disebut sebagai pendekatan psikologi Islam bila materi dan atau metodenya terkaut secara langsung dengan alquran dan al hadist. Dua jenis pendekatan psikologi islam : 1. Pendekatan psikologi islam orisinal yaitu pendekatan yang murni bersumber dari ajaran islam. Objektivikasi adalah proses mentransformasikan pandangan normatif menjadi pandangan objektif dan menjadi teori yang dapat diukur. Dalam hal ini, langkag yang perlu dilakukan adalah merumuskan konstruk berdasarkan sabar, syukur, tawadhu tawwakal. Dimensi sabar meliputi sabar terhadap malapetaka, sabar dalam menjauhi maksiat, dan sabat dalam menaati Allah SWT. 2. Pendekatan psikologi islam integratif yaitu pendekatan yang merupakan upaya mengintegrasikan pandangan yang bersumber dari agama islam dan pandangan yang bersumber dari pemikiran dan penelitian psikologi kontemporer. Rekonstruksi teori ikhlas secara integratif meliputi ketiadaan pamrih ke sesama, kerelaan akan situasi, dan pengharapan kepada ridho Allah SWT. Teori Psikologi Barat Psikologi Barat sebenarnya memiliki sejarah yang cukup panjang. Teori tertua dari psikologi Barat mungkin dapat ditarik hingga ke masa Hippokrates yang sering disebut sebagai “Father of Western Medicine” sekitar abad ke-5 SM. Bahkan teori kepribadian yang dicetuskan Hippokrates masih bertahan dan sering digunakan manusia hingga saat ini. Tentunya kita sudah tak asing lagi mendengar tentang tipologi kepribadian choleric-sanguinis-melancholys-phlegmatis. Jika kita mempelajari sejarah pemikiran Barat, sudah tentu akan menemukan banyak sekali teori tentang manusia sebelum ilmu psikologi berdiri sendiri. Hal ini disebabkan karena ilmu psikologi adalah anak bungsu dari filsafat. Ya, ilmu psikologi adalah ilmu yang paling baru melepaskan dirinya dari filsafat. Pemikiran Barat beraliran positivisme yang berpusat pada manusia sebagai dasar dan tujuan ilmu pengetahuan. Sebagai contoh, aliran psikoanalisa yang dilahirkan oleh Sigmund Freud menyatakan bahwa perilaku manusia didorong oleh alam bawah sadar yang berisikan impuls-impuls seksual dan kematian atau insting eros dan thanatos. Insting kehidupan menyatakan tujuan hidup seorang individu dan spesies adalah untuk memenuhi kebutuhannya seperti makanan, air, dan kebutuhan akan seks. Insting kehidupan berorientasi pada pertumbuhan dan perkembangan. Bentuk energi psikis yang dipakai dalam insting kehidupan adalah libido yaitu yang mengarahkan seseorang ke pemikiran dan perilaku dengan prinsip kesenangan. Libido ini dapat diwujudkan dalam bentuk objek dan konsep ini menurut Freud dinamakan ”cathexis”. Sebagai kebalikan dari insting kehidupan (eros), Freud mengemukakan death instincts. Sesuai pembelajaran biologi, dia mengemukakan fakta yang jelas bahwa semua yang hidup dapat rusak dan mati, kembali pada dasarnya yang mati dan dia mengemukakan bahwa manusia mempunyai keinginan tidak sadar untuk mati. Salah satu komponen dari death instincts adalah dorongan agresi, paksaan untuk menghancurkan, keinginan untuk berkuasa, dan membunuh. Sayangnya, Freud tidak menjelaskan secara rinci tentang insting kematian ini. Aliran behaviorisme menganggap manusia adalah sekumpulan respons-respons atas stimulus yang diberikan alam. Jadi singkatnya, manusia adalah organisme yang tidak memiliki kesadaran dan perilakunya sangat tergantung dari stimulus yang diberikan. Sebuah pribadi terbentuk karena adanya pembiasaan stimulus yang akhirnya melahirkan respons yang begitu-begitu pula. Sebagai kontra atas kedua aliran tertua dalam psikologi, aliran humanistik lahir atas kegelisahannya dengan teori psikoanalisa yang menganggap manusia layaknya hewan dan teori behavioris yang menganggap manusia seperti robot. Pendekatan ini menekankan bahwa masing-masing individu memiliki kemerdekaan yang besar untuk mengarahkan masa depannya, kapasitas yang luas untuk mengembangkan pribadi, nilai intrinsik dan potensinya yang sangat besar untuk emenuhan diri (self-fulfillment). Fenomenologi yang menjadi cara memandang manusia dalam aliran humanis menganggap manusia hidup dalam ‘dunia kehidupan’ yang dipersepsi dan diinterpretasi secara subyektif. Setiap orang mengalami dunia dengan caranya sendiri; alam pengalaman setiap orang berbeda dari alam pengalaman orang lain. D. Pendekatan Psikologi dalam Studi Islam Agama dari segi psikologi tidak dilihat dari aspek normatifitas atau benar tidaknya suatu agama, namun hanya terbatas pada lingkup pengaruh agama terhadap kejiwaan para penganutnya. Kejiwaan manusia yang ditinjau dari aspek agama hanya dapat dilihat dari sikap, tindakan, cara berfikir, cara merasa serta emosi yang ditimbulkan
Komentar
Posting Komentar